“Hey, apa kau suka padaku?” Tanya wanita kepada seorang
pria.
“Aku? Oh ya, tentu saja aku suka padamu.”
“Maksudmu, seperti cinta?”
“Ummm aku… tidak begitu yakin.” Pria itu menjawab dengan
gugup.
“Terimakasih sudah berkata jujur.” Wanita itu berusaha untuk
tenang.
Mereka berdua terdiam. Semua terasa begitu aneh, canggung,
dan membosankan.
“Hey, aku sudah merubah jadwal penerbanganku, agar kita bisa
pulang bersama.” Pria itu memecahkan kesunyian.
“Oh ya, tapi sepertinya aku ingin lebih lama lagi disini.
Libur ku masih panjang. Kita bisa berpisah, kau bisa pulang lebih dulu.”
Si pria kemudian memberhentikan mobilnya ke pinggir jalan.
Dia memalnginkan wajahnya kearah wanita itu. Mulai bertanya sambil mengerutkan
dahinya.
“Kau ini kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Kenapa wanita selalu seperti ini. Berkata tidak apa-apa,
padahal ada yang disembunyikan. Ini tidak jelas, kenapa harus berpisah?”
“Pada akhirnya kita pasti akan berpisah. Berpisah sekarang
atau nanti tidak ada bedanya kan ?”
“Maaf.”
“Kenapa minta maaf?” Wanita itu memalingkan wajahnya.
“Lalu kenapa kau marah? Kenapa kita jadi canggung seperti
ini, kenapa tidak bersenang-senang seperti tadi?”
“Seperti tadi? Jadi kau ingin kita terus bermain ‘aku tidak
tau namamu’, yang pada akhirnya mengucapkan selamat tinggal di bandara dan
berpura-pura tidak terjadi apa-apa?”
“Kenapa kau berkata seperti itu? Aku harus apa? Kita baru
saling mengenal beberapa hari.”
“Lalu kenapa kau peduli dengan ku? Kita tidak mengenal satu
sama lain.” “Menyetirlah.” Wanita itu berkata sambil menghela nafas, menengkan
diri.
“Aku tidak mau. Kita harus menyelesaikan masalah ini dulu.”
“Kalau begitu aku yang pergi.” Saat wanita itu ingin membuka
pintu, pria itu mecegahnya.
“Kalau itu mau mu, aku saja yang pergi.”
Pria itu pergi meninggalkan wanita itu sendiri di dalam
mobil.
Lalu wanita itu memandang ke arah punggung pria itu yang
semakin menjauh.
“Hey! Kau mau kemana? Hey! Hey! Jangan pergi! Hey!” Wanita
itu mencoba memanggil pria itu yang semakin menjauh dan tidak mau menoleh.
Pria itu terus berjalan tanpa mau menoleh kebelakang. Saat
ada mobil yang berjalan di belakangnya, dia pikir itu adalah wanita tersebut,
namun ternyata bukan. Pria itu mulai khawatir, dan dia kembali berlari ke arah
mobil yang dia tinggal bersama wanita itu. Namun ternyata, hanya mobil sedan
yang mereka sewa yang ada disana.
“Hey! Hey! Hey kau dimana?” Pria itu berteriak-teriak
mencari wanita tersebut.
Dia kembali membawa mobil itu sambil mencari wanita
tersebut. Dia merasa bodoh bisa meninggalakn wanita itu sendiri. Tiba-tiba saja
ia merasa hampa dan tak bisa membendung air matanya. Dia pergi ke hotel dimana
wanita itu menginap. Dan bertanya kepada receptions hotel itu.
“Apakah kau melihat wanita yang pergi bersama saya?!”
“Maaf tuan kami tidak melihat.”
“Wanita itu menginap disini! Kamu tau?!”
“Mohon maaf tuan, kami tidak melihatnya.”
“Wanita itu datang bersama saya! Yang datang bersama saya!”
Pria itu tak bisa menahan emosinya sehingga semua pengunjung menatap ke
arahnya.
“Aku sudah disini dari tadi.” Tiba-tiba wanita itu munucul
dibelakangnya. “Bagaimana bisa kamu meninggalkan aku seperti itu? Aku tidak
bisa menyetir! Kalu tadi tidak ada mobil yang lewat, apa yang bisa aku
lakukan?”
Belum selesai wanita itu berbicara, pria itu memeluknya dan
membiarkan wanita itu menangis di bahunya.
“Maafkan aku. Aku memang kurang ajar. Aku bodoh. Aku seperti
pecundang.” Pria itu melepaskan pelukannyan dan kembali berkata “Saat aku
berkata tidak begitu yakin… Aku hanya tidak begitu tahu, perasaan apa ini. Yang
aku tahu hanya, saat bersamamu aku benar-benar sangat bahagia. Saat kau tidak
ingin pulang bersamaku dan saat kau tadi menghilang, aku merasa hampa. Apakah
ini cinta?” Pria itu tak bisa menahan semua kata-katanya.
“Bagaiman bisa kau mencintaiku? Kita tidak saling mengenal
satu sama lain. Bahkan kamu tidak tahu namaku.”
“Kau benar, aku tidak tahu namamu. Tapi aku tahu seseorang,
dia bisa minum seliter pepsi, saat dia naik motor bersamaku dia selalu
tertidur, dia bisa memanggil aku apa saja sesuka hatinya, dia bisa membuat ku
tertawa saat dia melakukan salto. Aku juga tahu, bila bersama dia aku selalu
menjadi orang yang sial, aku tidak pernah memenangkan apapun saat bermain di
pasar festival. Tapi perlu diketahui, aku tetap senang melihat dia setiap saat.
Orang itu adalah kau.” Pria itu tersenyum sambil melihat wanita itu masih
menangis.
“Lalu kenapa kau menangis?” Wanita itu berkata sambil
tersenyum, dan menghapus air matanya.
“Bukannya kamu juga menangis?” Pria itu menatap wanita itu
sambil tersenyum. “Boleh aku memelukmu lagi?” Pria itu bertanya.
“Aku tidak mengatakan tidak boleh.”