Tak pernah semudah itu, aku menanti apa yang kita jalani
Meski akhirnya semudah itu, hatiku luluh kembali ke pelukanmu
Bagaimana pantasnya, bagaimana?
Meski akhirnya semudah itu, hatiku luluh kembali ke pelukanmu
Bagaimana pantasnya, bagaimana?
Apalah yang diharapkan bila tak ada tujuan
Mungkin hanya kesenangan yang membuat kita terus bertahan. -Luluh
Yang namanya kompak itu emang perlu banget. Pas mulut sama hati kompak bilang "Engga", tapi masih ada otak yang ngarahin gue buat bilang "Iya". Gue cuma berusaha ngikutin alur, karena ga mungkin alur yang ngikutin gue. Ga ngerti? Sama gue juga.
He said i'm selfish, tapi menurut gue dia yang ga peka. Dia bilang "Gue udah sabar, tapi sabar juga ada batasnya." dan menurut gue, dia belom bener-bener sabar. Kalo dia udah bener-bener sabar, harusnya dia ga usah mikirin batasannya. Dia juga bilang, "Kalo lo sayang sama sesuatu, lo harus menyayangi dengan ikhlas." dan gue meng-iya kan. Karena suatu saat gue menyayanginya dengan ikhlas, dan kali lainnya gue bisa melepaskannya dengan ikhlas.
Tapi, kali ini gue ngerasa terlalu ikhlas menyayangi, sampe-sampe ga ikhlas ngelepasin. IT'S A BIG MISTAKE! Kenapa gue ngerasa harapan itu masih terlalu banyak? Andai harapan bisa dijual, mungkin udah gue lelang dari dulu.
Satu kutipan lagu dari ecoutez ini, mungkin salah satu yang pas.
"Selalu saja kau dapat membuatku, maafkan salah mu. Dan kini kau ulangi salah mu yang itu-itu saja. Kecewa ku diabuat mu, terluka karna sifat mu, dan kini ku tak mampu, bertahan lagi." -Simpan Saja.
AH! so deep.
Jadi, untuk si mulut-mulut palsu, berhentilah sebelum mulut lo gue jait. Sekian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar