Minggu, 01 April 2012

Mati Rasa

Disaat aku berusaha meyakinkan diri, berusaha untuk melupakan.
Entah mengapa kenangan itu, secara tidak sopan berlarian kesana-kemari.
Kembali teringat.
Indah.
Indah? benarakah itu yang kurasakan dulu? atau sekarang?
Sebenaranya, aku sendiri tak yakin dulu itu disebut indah.
Sesuatu yang indah itu tidak pernah sementara, seharusnya, itu berjalan seterusnya.
Ya, 'seharusnya'. Tapi inilah hidup. Itulah yang diinginkan orang-orang di dalamnya.
Indah, selamanya.
Ah, mimpi! Kenyataannya hidup tak begitu.
Tapi buat apa menyesal? Toh, itu tidak merubah apapun.
Lalu kenapa aku masih tak bisa lepas dari bayang dan kenangan masa lalu?
Yang (aku kira) begitu indah.
Yang (aku kira) tidak ada rahasia.
Yang (aku kira) tidak ada kebohongan.
Yang (aku kira) selalu penuh dengan kasih sayang tulus.
Tapi sepertinya, itu semua hanya ilusi.
Sampai suatu hari seorang teman berkata, "ngapain lo ratapin bajaj yang lewat, kalo Tuhan mau  ngasih lo mercy?"
Dan aku belum juga sadar.

'Karena aku tidak mengerti apa yang temanku katakan. Benarkah Tuhan mau memberikan ku mercy? Tapi siapa yang minta mercy? Aku belum bisa menyetir dengan bagus, mana mungkin dibelikan mobil itu. Aku tidak ingin menjadi Afriyani yang membahayakan orang lain. Lagi pula, aku tidak pernah meratapi bajaj. Kendaraan itu selalu membuat pantat ku gatal, dan suaranya tidak pernah enak di telinga. Dan di daerah tempat tinggal ku, tidak pernah ada bajaj lewat.
Sampai akhirnya temanku berkata, "ITU CUMA ISTILAH! SIAPA JUGA YANG MAU NGASIH LO MERCY, MENDING BUAT GUE!" dan aku balas berkata "BUAT LO? CARI MATI BANGET ORANG YANG NGASIH LO MERCY. NYETIR AJA GA BISA!". Dan sampai akhirnya, kami memutuskan tidak memperpanjang masalah mercy dan bajaj itu.'

Dan akhirnya aku sadar.
Maksudnya, Tuhan akan memberikan yang lebih baik lagi untuku.
Tapi kenapa rasanya masih berat untuk melupakan.
Ya, rindu itu memang wajar.
Tapi sesungguhnya, aku tak ingin merasakan itu lagi.
Satu hal yang harus ku lakukan tentang ini adalah,
Melupakannya.
Ya, aku harus.


Jakarta, waktu hujan, 1 April 2012
Anggarini Dwisari .N

Tidak ada komentar:

Posting Komentar